MAROS, iNews07.Com — Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros terus memperkuat upaya menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman El Nino yang berpotensi mengurangi ketersediaan air bagi lahan persawahan.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni menyalurkan hampir 500 unit pompa air kepada petani selama dua tahun terakhir untuk membantu mengatasi persoalan kekeringan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros, Jamaluddin, menyampaikan hal tersebut saat ditemui di Tribun Utara Lapangan Pallantikang, kompleks Kantor Bupati Maros, Kamis (22/10/2026), dalam kegiatan Gerakan Pangan Murah sekaligus peringatan Hari Pangan Sedunia 2026.
“Beberapa upaya yang kita lakukan seperti penyediaan pompa air bagi petani-petani yang terdampak kekeringan. Saat ini sudah hampir 500-an dalam dua tahun ini pompa air yang telah kita berikan kepada masyarakat untuk membantu mengatasi persoalan kekeringan,” ungkap Jamaluddin.
Menurutnya, pompanisasi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi petani, terutama ketika pasokan dari jaringan irigasi belum mencukupi kebutuhan lahan pertanian.
Selain penyaluran pompa air, Pemerintah Kabupaten Maros juga menjalankan program Optimasi Lahan (OPLAH) Non-Rawa dengan sasaran lahan seluas lebih dari 3.200 hektare yang melibatkan 124 kelompok tani.
Program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian agar tetap produktif, termasuk melalui dukungan infrastruktur pertanian dan pengelolaan sumber air.
Jamaluddin juga menyebut program PMAAS (Pertanian Modern Advanced Agriculture System) dengan target luasan 3.585 hektare di Kabupaten Maros.
Hingga Oktober 2026, realisasi pelaksanaan program tersebut disebut telah mencapai lebih dari 330 hektare.
Berbagai program tersebut diharapkan mampu membantu petani menghadapi keterbatasan air sekaligus meningkatkan produktivitas lahan pertanian di tengah tantangan kondisi iklim.
Di tengah ancaman El Nino, lahan persawahan di Kabupaten Maros yang memasuki musim tanam ketiga (MT3), khususnya di wilayah Daerah Irigasi (DI) Bantimurung, tercatat mencapai lebih dari 3.000 hektare.
Jamaluddin menyebut, berdasarkan komunikasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), kemampuan layanan DI Bantimurung berada pada kisaran 1.200 hektare.
Perbedaan antara luas lahan yang memasuki MT3 dan kapasitas layanan irigasi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan air bagi petani.
Karena itu, pemerintah daerah berupaya mengoptimalkan alternatif penyediaan air, termasuk melalui pompanisasi, agar lahan persawahan tetap memperoleh pasokan air yang dibutuhkan.
“Beberapa upaya yang kita lakukan dalam rangka mengoptimalisasikan lahan-lahan sawah kita yaitu dengan dukungan pompanisasi,” jelasnya.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu mempertahankan aktivitas pertanian dan menjaga keberlangsungan musim tanam, meskipun ketersediaan air menghadapi tekanan.
Jamaluddin berharap berbagai program yang telah dijalankan dapat membantu mempertahankan produksi pangan di Kabupaten Maros hingga akhir tahun.
Selain memperkuat sektor produksi, Pemerintah Kabupaten Maros juga menggelar Gerakan Pangan Murah untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau, menjaga stabilitas pasokan dan harga, serta mendukung pengendalian inflasi.
Kegiatan yang berlangsung di Tribun Utara Lapangan Pallantikang tersebut melibatkan mitra Perum BULOG, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta petani lokal yang turut memasarkan hasil pertanian mereka, termasuk bawang merah.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk mendekatkan akses masyarakat terhadap bahan pangan sekaligus membuka ruang pemasaran bagi petani dan pelaku usaha lokal.
Jamaluddin berharap kegiatan tersebut memberikan manfaat langsung kepada masyarakat serta memperkuat sinergi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan UMKM.
Melalui penyaluran pompa air, program optimasi lahan, modernisasi pertanian, dan Gerakan Pangan Murah, Pemerintah Kabupaten Maros berupaya menjaga keberlanjutan produksi pertanian sekaligus mendukung ketersediaan pangan di tengah ancaman El Nino.
Namun, keberhasilan upaya tersebut tetap bergantung pada ketersediaan sumber air, kondisi cuaca, serta efektivitas pelaksanaan program di tingkat petani.











